BERBAGI

Tak Cuma Facebook, Data Pengguna LinkedIn dan Twitter Juga Bocor

Pasca-terkuaknya skandal Cambridge Analytica, para pengguna internet langsung memeriksa data-data yang mereka setor di berbagai platform untuk memastikan keamanannya.

Facebook sebelumnya menyindir platform lain yang turut mengumpulkan data pengguna, seperti Google, LinkedIn dan Twitter. Perkataan Facebook ternyata benar adanya.

Propellerads

Dilansir ZDNet, Kamis (19/4/2018), perusahaan data LocalBlox mengumpulkan bahkan menciptakan profil dari individual menggunakan profil pengguna di platform seperti Facebook, LinkedIn, dan Twitter.

Total ada 48 juta catatan informasi personal yang diambil dari sumber-sumber tersebut, serta sumber lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Parahnya lagi, data-data yang dipanen dari pengguna tidak disimpan di tempat yang aman. Hal tersebut ditemukan oleh Chris Vickery, pemburu kebocoran data dari UpGuard, firma peneliti keamanan siber.

Apa saja data pengguna yang diambil? Beberapa di antaranya nama, alamat, tanggal lahir, riwayat LinkedIn, konten Twitter, dan informasi yang menunjukkan kepribadian online seseorang.

“Penggunaan data yang tidak sah bisa melingkupi pencurian identitas, penipuan, dan amunisi untuk melakukan rekayasa sosial, seperti phishing (penipuan lewat situs),” tulis UpGuard dalam laporannya.

Dikhawatirkan, berbagai informasi terkait data pengguna yang diambil dapat dijual ke agensi iklan dalam konteks targeted marketing (pemasaran terarah).

Hal itu tentunya mengganggu privasi pengguna yang tidak sadar bahwa informasi mereka telah dipanen tanpa izin.

Hati-hati Saat Login ke Situs Lain dengan Facebook

Bila kamu login ke suatu situs web memakai akun Facebook, lebih baik kamu pastikan lagi apakah platform tersebut abal-abal atau tidak. Sebab, telah ditemukan adanya kelompok yang mengambil data profil Facebook lewat login di suatu situs web.

Dilansir Tech Crunch, ada pihak ketiga yang memakai pelacak JavaScript di sebuah situs untuk mengambil data seperti nama, alamat email, perkiraan umur, gender, domisili, dan foto profil.

Masih belum ada kejelasan apa yang terjadi dengan data pengguna, tetapi oknum-oknum tersebut kebanyakan memiliki induk perusahaan seperti Tealium, AudienceStream, Lytics, dan ProPS. Semuanya diketahui memakai data pengguna yang terkumpul untuk tujuan finansial.

Hal ini memang tidak bisa disebut sepenuhnya kesalahan Facebook karena sejumlah pihak ketiga itu tidak melakukannya dengan izin Facebook.

Namun, Tech Crunch menyebut seharusnya Facebook bisa melakukan audit untuk mencegah terjadinya masalah ini.

Kasus ini serupa tapi tak sama dengan pengakuan Facebook yang menyatakan data pengguna memang dikumpulkan Facebook untuk tujuan iklan, sementara yang dilakukan pihak ketiga ini dicurigai dilakukan untuk kepentingan penjualan data.

Sebelumnya, Facebook menulis dalam Newsroom mereka kalau situs yang dikunjungi oleh pengguna memang dapat diketahui oleh Facebook, berikut dengan konten dari situs tersebut.

Informasi tersebut kemudian dipakai Facebook untuk menyajikan iklan yang relevan bagi pengguna.

Itulah mengapa terkadang ada pengguna melihat iklan produk di Facebook, padahal sebelumnya baru saja mencari produk tersebut di situs lain.

Jaga Privasi di Media Sosial

Banyaknya kasus kebocoran dan penyalahgunaan data dapat menjadi memontum bagi pengguna untuk lebih bijak memakai media sosial.

Pengguna baiknya jangan menulis informasi seperti alamat rumah atau tentang keluarga karena bisa disalahgunakan orang jahat.

Yang tidak kalah penting adalah mengatur setting atau setelan di akun supaya postingan tidak bisa dilihat sembarang orang. Ubah pengaturan posting kamu hanya untuk teman atau keluarga, jangan dibuka untuk publik.

Dan tentu jangan asal berkenalan di media sosial, terutama di Facebook. Pastikan kamu mengetahui jelas identitas orang yang kamu kenal, sehingga kamu aman dari tindak kejahatan atau penipuan.

Jangan lupa untuk memperingatkan anggota keluarga yang belum terlalu paham politik, seperti anak-anak atau orang yang lebih dewasa supaya mereka tidak terjerumus bahaya yang ada di media sosial.

 

sumber: liputan6.com

Advertisement
loading...