BERBAGI

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Pulau Anambas, Kepulauan Riau, bila tak mampir ke lokasi pembudidayaan ikan napoleon. Desa Air Sena, tempat di mana sekitar 120 ribu ekor napoleon dibudidaya, beberapa hari lalu. Di sana, pengunjung bisa melihat ikan napoleon tanpa harus menyelam.

Menuju ke desa dengan populasi pembudidaya ikan napoleon terbesar di Kepulauan Anambas, kami menggunakan kapal cepat (speed boat) dari dermaga Kota Tarempa. Butuh waktu 45 menit perjalanan ke lokasi. Laut di sana digunakan layaknya jalan raya.

Propellerads

Kadang kami harus berpegangan erat saat kapal menghantam gelombang tinggi. Kapal terguncang-guncang dan miring ke kanan dan kiri, cukup membuat jantung berdebar kencang. Kadang kapal juga harus memutar karena ada terumbu karang yang menyembul ke permukaan air.

Masyarakat setempat mengenal ikan napoleon dengan nama ikan ketipas. Ikan napoleon adalah sejenis ikan karang berukuran besar dengan tubuh berwarna terang.

Besarnya permintaan ekspor menyebabkan harga ikan langka ini naik tajam. Bahkan, pembudidaya di Anambas mengaku bisa meraup untung hingga ratusan juta rupiah.

Sebagian besar penduduk di Desa Air Sena berprofesi sebagai pembudidaya ikan napoleon. Setiap  rumah setidaknya memiliki tiga hingga empat kolam karamba. Karamba itu terbuat dari jaring ikan dua lapis yang diletakkan di dasar laut, lalu ditegakkan dengan batang kayu.

Di Desa Air Sena, kolam karamba berjajar di tengah laut, sehingga meski berada di kolam, ikan napoleon seolah tetap di habitat aslinya.

Yang unik, ikan napoleon ini sangat sensitif dengan berbagai macam gerakan. Satu gerakan saja, akan langsung direspons napoleon dengan menjauh dari permukaan. Ikan napoleon memiliki aktivitas layaknya manusia, yakni tidur di malam hari.

Aleong (43), salah satu pembudidaya ikan napoleon di Desa Air Sena, menjelaskan budidaya ikan napoleon sangatlah mudah. Sebab, ikan napoleon tahan terhadap berbagai jenis penyakit dan tahan tidak makan. Bahkan, ikan jenis ini bisa tetap hidup tanpa makanan selama 25 hari.

Dia mengaku, dengan bermodal Rp50 juta, dia bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp250 juta sekali panen, yakni setiap enam bulan sekali.

“Benih ikan saya beli dari nelayan dengan ukuran satu inci. Setiap panen, biasanya saya jual hingga 300 ekor dengan harga 180 dolar Singapura per kilogram (kg). Satu ekor biasanya mendekati 1 kg, karena saya jual yang besar-besar saja, yang usianya sudah lima hingga enam tahun,” kata Aleong kepada VIVA.co.id, beberapa waktu lalu.

Pria yang mengaku sudah 12 tahun menekuni budidaya ikan napoleon ini menjelaskan, makanan ikan jenis ini juga tidak ada penanganan khusus, hanya rutin diberi makan sehari tiga kali dengan ikan-ikan kecil yang sudah dikeringkan.

Aleong menuturkan, saat ini dia memiliki 5.300 ekor ikan napoleon yang sedang dibudidaya. Dia menjelaskan, ikan yang bercorak biru tersebut kurang diminati untuk dijadikan santapan warga sekitar. Selain rasanya yang tawar, ikan ini sebetulnya juga termasuk hewan langka.

”Tapi buat masyarakat Hong Kong dan Singapura, ini ikan yang prestise. Tidak sembarang orang yang dapat memakannya. Mereka juga bisa mengolah ikan ini menjadi menu yang sangat enak, saya pernah mencobanya,” ujarnya.

Sayangnya, kini ikan napoleon tak lagi laris manis diekspor ke Hong Kong dan Singapura. Kerena dianggap sebagai ikan langka, mereka mengurangi konsumsi ikan napoleon.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Anambas, Yunizar mengatakan, ada 271 pembudi daya ikan napoleon yang berada di Kepulauan Anambas. Jumlah itu belum termasuk pembudi daya kecil yang belum terdata.

”Kalau jumlah kantong (tambak) ada 1.800 titik,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Anambas, Yusmadi, optimistis budidaya napoleon di Anambas sangat potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu lokasi tujuan wisata.

”Di Anambas sebagian besar daeranya berupa pantai dan laut. Budidaya napoleon bisa menjadi salah satu tujuan pariwisata yang unik karena tidak ada di daerah lain,” kata Yusmadi.

 

sumber: viva.co.id

Advertisement
loading...