BERBAGI

Pihak kepolisian tengah memburu seseorang yang diduga kolektor video asusila sebelum video itu dijual ke luar negeri dari tersangka Faisal, tersangka pembuat video asusila yang melibatkan anak di bawah umur. Polisi mengungkap dugaan adanya kolektor video itu berawal dari transferan uang kepada Faisal untuk dua pemeran wanita guna menghilangkan bukti tato di tubuhnya.

Kecurigaan pihak kepolisian terkait adanya kolektor video itu sebelum dijual ke luar negeri terungkap dari transferan sejumlah uang yang diterima Faisal melalui rekening bank miliknya.

Propellerads

Menurut polisi, Faisal mengaku bahwa video mesum anak itu dibeli oleh R dan N yang merupakan warga Rusia dan Kanada. Namun dari hasil transferan uang tersebut tidak menggunakan rekening bank asing, melainkan menggunakan bank asal Indonesia.

“Ada perantara dalam bisnis ini. Orang ini berperan sebagai kolektor video porno dari beberapa pembuat video termasuk tersangka Faisal. Setelah itu, orang ini menjual video itu ke luar negeri,” kata Ditreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Umar Surya Fana di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 11 Januari 2018.

Transferan uang itu, menurut pihak kepolisian diketahui digunakan untuk penghilangan bukti tato yang ada di tubuh kedua pemeran wanita yang ada dalam video tersebut. Pihak kepolisian mendapati dua transaksi terakhir ke rekening BCA milik Faisal.

Transaksi bank itu diketahui terjadi tanggal 4 dan 5 Januari 2018. Dalam transaksi yang tertanggal 4 Januari tersebut, jumlah uang yang masuk yakni Rp 4.116.593 dan tanggal 5 Januari sebesar Rp 4.229.862.

Umar menjelaskan, bahwa uang tersebut rencananya dibayarkan kepada pemeran video wanita yakni Intan dan Imelda.

“Jadi dua transaksi terakhir itu, pengakuan Faisal untuk membayar ke pemeran wanita. Perihal mengganti perjanjian bahwa video tidak beredar di Indonesia, namun akhirnya beredar. Sehingga uang itu diminta oleh Faisal,” kata Umar.

Umar juga menambahkan, bahwa kedua pemeran wanita tersebut juga meminta uang untuk menghapus tato guna menghilangkan jejak sebagai pemeran video tersebut.

“Tadinya uang itu untuk menghapus tato kedua pemeran, agar tak ada bukti. Namun kasus video keburu terungkap dan uang yang ada di rekening Faisal dengan dua transaski terakhir belum dibayarkan,” katanya.

Polda Jabar sendiri memastikan bahwa ada peran lain dalam kasus ini. Dimana pemilik akun bank permata dipastikan bukan orang luar negeri.

“Pemilik rekening Bank Permata yang mentransfer ke BCA milik Faisal kita buru. Diduga warga sini juga (dalam negeri). Dan ini dipastikan kolektor atau perantara dari orang Rusia seperti pengakuan Faisal hingga saat ini,” katanya.

Dalam mengungkap pihak perantara penjual video itu, polisi mencurigai Faisal yang diketahui kerap terbang ke Bali selama kurun waktu pembuatan video itu. Diduga kepergian Faisal ke Bali tersebut bekaitan dengan transaksi video tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Polda Jawa Barat mengungkap video asusila yang melibatkan tiga anak di bawah umur menjadi korbannya. Video itu merupakan pesanan seseorang di luar negeri. Pelaku Faisal mengaku mendapatkan imbalan sebesar Rp 30 juta atas video yang diproduksinya.

Enam orang yang terlibat dalam pembuatan video ditangkap aparat kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Proses pembuatan video tersebut berawal dari pertemanan dari Faisal dengan komunitas Rusia di platform media sosial.

Faisal kemudian mengirimkan foto mesum antara seorang anak dengan perempuan dewasa pada April lalu. Faisal mendapat tawaran untuk membuat video mesum anak yang nantinya akan diganti dengan sejumlah uang.

Faisal diketahui mendapatkan orderan video tersebut dari seorang pelaku yang mengaku berkewarganegaraan Kanada.

Faisal juga menyanggupi tawaran tersebut dan kemudian meminta bantuan untuk mencarikan bocah laki-laki kepada Cicih dan IM. Mereka kemudian membuat video tersebut pada Mei dan Agustus 2017, di dua hotel di Kota Bandung, yakni di hotel Mitra dan hotel Ideas.

Terkait pembuatan video itu Umar menyatakan bahwa salah seorang itu memaksa anaknya untuk ikut berperan dalam video itu, padahal anak tersebut sudah menolak.

Para tersangka dijerat dengan tiga pasal yang berbeda, yakni Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Pornografi, dan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik. AS

 

Sumber : kriminologi.id/hard-news

Advertisement
loading...