BERBAGI

Jika anda sering menonton serial TV Korea, pasti anda tahu bahwa di dalam serial tersebut, Korea sering menayangkan kebiasaan sehari-harinya. Para Korean lovers pasti juga udah ngerti dan tau beberapa budaya baik yang ada di Korea. Budaya ini selalu diajarkan orang tua di Korea kepada anak-anak mereka, hal ini akan menjadi manis sekali jika dijadikan panutan.

1. Peran hyung (kakak)

Korea menganut budaya senior-junior yang sangat kental, di mana junior harus bersikap sopan pada senior setiap saat. Hal ini menjadikan kedudukan sebagai yang tertua menjadi lebih tinggi dan diinginkan oleh setiap orang. Dengan begitu, menjadi yang tertua akan bisa mengatur yang lebih muda sesuai keinginannya. Hal baiknya, menjadi yang tertua berarti memiliki tanggung jawab yang besar dan sebagai pelindung.

Orang tua di Korea akan mengajarkan anak tertuanya untuk mengambil peran yang lebih dalam keluarga, seperti mengendalikan adik-adiknya. Hyung diajarkan untuk melindungi dongsaeng yang lebih lemah darinya dan berperan selayaknya wakil pimpinan di keluarga tersebut sehingga memberinya kebanggaan pada orang tuanya karena telah menjaga adik-adiknya dengan baik. Rasa bangga tersebut akan tumbuh menjadikannya anak tertua yang bertanggungjawab, memiliki jiwa kepemimpinan baik, tidak egois, dan tegas.

2. Sikap laki- laki pada perempuan

Propellerads

Jika pernah melihat drama-drama Korea, penonton wanita pasti dibuat melayang-layang karena sikap manis pemeran prianya. Hal ini karena kebiasaan orang tua di Korea yang selalu mengajarkan anaknya untuk bersikap manis dan memperlakukan wanita dengan baik. Meskipun ketika mereka tumbuh dewasa, tidak semua pria Korea memiliki kepribadian serupa. Orang tua di Korea mengajarkan pada anak laki-lakinya untuk melindungi wanita seusianya atau lebih muda. Contohnya, ketika laki- laki dan perempuan sedang berjalan di pinggir jalan raya, maka seorang laki- laki diajarkan untuk berjalan disisi yang paling dekat dengan jalan raya untuk melindungi teman wanitanya.

3. Etika saat makan

Budaya senior-junior pun ada di meja makan saat makan bersama. Anak diajarkan untuk tidak menyantap makanan di meja, sebelum orang tua menyantap makanannya. Hal ini juga berperan untuk melatih kesabaran anak dan sopan santun terhadap orang tua di meja makan. Seperti pada kebanyakan budaya, menghabiskan makanan di piring pribadi adalah perilaku yang baik di meja makan dan sebagai bentuk rasa terima kasih oleh yang membuat makanan. Mereka diajarkan untuk mengucapkan selamat makan sebelum menyantap makanan dan mengucapkan terima kasih atas makanannya setelah makan selesai.

4. Say I love you (saranghae)

Para orang tua dimana saja pasti akan mengajarkan pada anaknya untuk berkata maaf, terima kasih, dan mengucap salam. Namun, tidak semua negara memiliki budaya lengkap ini dan tidak terbi asa mengucapkan beberapa kata diatas dengan terbuka. Sedangkan di Korea hal ini menjadi biasa dan sangat sering diucapkan, misal “appa omma saranghae (papa mama aku menyayangimu)”. Bahkan dengan budaya K-popnya beberapa cara menyatakan rasa sayang atau cinta melalui gestur tubuh sangat dikenal. Gestur bentuk cinta sering dipraktekkan menggunakan kedua tangan. Beberapa membentuk gestur tersebut seperti membentuk kedua tangan menjadi bentuk hati besar di atas kepala, ada juga yang disebut finger heart dengan menyilangkan jari jempol dan telunjuk. Budaya manis ini sangat dikenal oleh penggemar K-pop di seluruh Dunia. Budaya mengucapkan rasa sayang secara terbuka ini membantu menjalin huubungan anak dan orang tua lebih dekat.

5. Pantang menyerah

Sejak kecil, anak di Korea diajarkan untuk pantang menyerah dan bekerja keras. Mereka diajarkan bahwa dengan bekerja keras, maka mereka akan mendapatkan apapun yang diinginkan. Maka, kalimat-kalimat semangat dan dukungan selalu diucapkan dalam budaya sosialnya. Mereka akan mengucapkan “halsu-isseo! Fighting!” yang berartikan “Kamu pasti bisa! Semangat!”. Orang tua juga tidak lupa memberikan pujian atau ekspresi dengan seluruh tubuhnya atas keberhasilan sang anak. Ekspresi yang diberikan seperti tersenyum, tepuk tangan, menari, berteriak senang, atau lainnya. Ekspresi yang ekstra ini membuat anak menjadi lebih semangat lagi untuk berjuang.

6. Mendidik anak laki-laki seperti seorang pria

Anak-anak terkadang bertingkah hyper dan sulit dikendalikan. Anak- anak juga menjadi egois terhadap keinginannya dan sering menangis. Orang tua biasanya mengajarkan pada anaknya bahwa laki- laki yang kuat itu tidak menangis atau cengeng. Sehingga, anak terpacu untuk menjadi laki-laki yang kuat dan berhenti merengek atau menangis. Ketika anak terjatuh dengan sendirinya atau egois tidak mau menurut, maka pernyataan diatas mungkin membantu mengendalikan sang anak.

Hal manis yang diajarkan di atas tentu bisa juga kamu adaptasi dalam mendidik anak. Tentunya dengan tetap memperhatikan budaya masyarakat tempat tinggal dan esensi dari mendidik anak. Beberapa hal tentang mengekspresikan perasaan melalui kata-kata dan gesture tubuh dengan terbuka sepertinya menjadi catatan positif untuk bisa ditiru. Dari beberapa hal diatas, mana saja yang menurutmu baik untuk ditiru?

 

Sumber: www.shopback.co.id

Advertisement
loading...